Tajam semua atau bokeh? (Street photo)

Kitalah yang harusnya menentukan urusan ruang tajam di hasil foto. Kalo bagaimananya, sudah banyak sekali tutorial utk itu. Yang lebih penting adalah MENGAPA nya?

Menurut saya sih. Urusan Bokeh, terlalu dibesar besarkan. Seolah olah, Asal bokeh pasti bagus. Bokeh jadi andalan, terutama untuk foto portrait. Karena secara terang2an, bokeh memisahkan subjek dengan layar belakang. Tapi, klo melulu andalkan bokeh…. sepertinya boring deh dan tak ada tantangan.

Kucing di lapangan futsal (Bekasi 2017)

Sebaliknya, hasil foto yang semuanya tajam, motretnya simpel, karena by default semua lensa pasti bisa. Tetapi utk hasil yang optimal, betul betul membutuhkan ketelitian dan perhatian yang lebih pada saat sesi pemotretan. Apalagi pada saat nyetreet. Tantangan utk memadukan antara semua elemen dalam frame, benar benar perlu kerja keras dan latihan yang serius.

Ruang tajam yang luas, sangat berpotensi menghasilkan kekacauan. Yang paling sering adalah Subjek kita kalah bersaing dengan elemen lain dalam bingkai foto. Misalnya: kalah kecerahan, kalah dalam warna, kalah oleh background yang berpola dan lain sebagainya.

Jogja 2017

Salah satu trik untuk mensiasatinya  adalah dengan menSEDERHANAKAN isi bingkai foto kita. Cara paling mudah utk itu adalah TENTUKAN DULU BACKGROUND nya, setelah itu tunggu orang lewat dan anda siap memotretnya. 

Bekasi 2017

Siap dicoba agan?

Semangaat

BudiPurnomo

Iklan

Street photo pake KAMERA HP?

Sy malah merekomendasikan banget. Apalagi utk daerah2 tertentu (walaupun masih di area umum). Biasanya orang2 di situ sensitif banget klo ada orang asing berfoto ria pake kamera non HP. Nah, klo pake HP asal tidak terlalu heboh, mereka lebih menerima. 

Jakarta 2017. Samsung S7edge

Nah, yang harus dipastikan adalah kualitas kamera di HP. Kualitas kamera di HP saat ini terus meningkat luar biasa. Sehingga pastikan ketika anda mau ganti HP… jadikanlah kualitas kamera dijadikan alasan utk membelinya.

Sebenernya secara teknik foto. Motret pake HP lebih nyaman banget. Pilih mode auto saja. Apalagi klo kameranya sudah ada fasilitas penstabil, yang meminimalkan blur pada kondisi cahaya yg minim.

Bekasi 2017. Samsung S7edge

Ini settingan yg biasa saya pakai ketika nyetreet dengan HP.
1. Hidup grid dalam lcd, agar memudahkan dalàm mengatur komposisi.

2. Pilih mode foto yang normal saja (tanpa efek apapun).

3. Klo memungkinkan, atur kecerahan pada saat memotret.

4. Jangan gunakan zooming. Foto ajah sesuai focal lenght standard. Klo terlalu lebar. Dekati subjek.

5. Pilih sudut pandang lebih bawah atau lebih atas. Tidak sejajar dengan mata subjek.

Jakarta 2017. Samsung S7 edge

6. Pura pura ambil video. Jadi bisa dekati muka subjek secara lebih ekstreem.

7. Foto terus ajah. Gak usah lihat hasilnya. (Dari pada momennya hilang)

8. Lakukan editing dgn memilih foto terbaik. Sy biasa melakukan sedikit retouch dgn VSCO atau Snapseed. Biasakan jangan dicropping, supaya kita terbiasa melakukan cropping aktual pada saat sesi pemotretan dilakukan.

9. Ramah dan tersenyum (dan minta ijin klo dibutuhkan). Untuk minimalkan penolakan.

10. Play and enjoy like a kid.

Semangaat

BudiPurnomo

Uniknya Street Photography (2)

Di banyak genre fotografi, kita dituntut moto dengan hati2 dan kurangi atau hindari kesalahan. Misalnya masalah blur, ruang tajam, over expose, ketepatan framing dll. 

Bandung 2017

Di street photo mah agak beda, kita malah dianjurkan berani berbuat salah! Gak usah terlalu banyak mikir dan pertimbangan. Foto aja apa yang mau difoto. Out of focus gak masalah. Kepala orang terpotong bingkai foto, juga gak masalah. 

Bekasi 2017

Play like a kid. Enjoy ajah. Jepret sana, jepret sini. Bahkan sangat tidak disarankan, sehabis jepret langsung liat hasilnya di layar. Lihat hasil foto mah nanti ajah. Pokoknya selama di jalanan. Foto ajah sebanyak mungkin. Bila perlu, beranikan diri utk foto orang asing yg “kita ada rasa takut utk memotonya”.

Jogja 2017

Bagaimana? Asyiiik kan.

Semangaat

BudiPurnomo

Uniknya Street Photography (1)

Mempelajari dan memotret di jalanan seperti belajar mengenai manusia (lagi). Banyak sekali tipe orang dengan berbagai karakter yang dijumpai. Mulai dari bocah sampai dengan kakek-kakek. Dari orang berada sampe bertidakada. 

Karena objek utama street photo adalah orang asing yang tidak kita kenal. Bisa dibayangkan, semakin perlunya kita belajar beretika, bersosialisasi dan elmu lain terkait hubungan dengan manusia. 

Artis Jalanan, Bandung 2017

Motret makro, landscape atau arsitektur. Tidak akan ada rasa khawatir atau takut objek foto akan marah atau menolak utk difoto. Di Street Photo, peluang anda dimarahi, dipelototi atau dikomplen subjek foto akan muncul. Itu sebabnya masih banyak hobies streetphoto yang motonya candid atau dari belakang atau pakai lensa tele.  Atau memotret (maaf) pengemis dan gelandangan yang seolah olah mereka identik dengan jalanan.

Depan Gedung Sate Bandung 2017

Walaupun hal di atas tidak masalah. Tetapi (menurut sy), memotret sperti itu seperti membatasi kita utk hasil foto yang maksimal (terutama utk foto portrait). 

Di acara kondangan temen, Bekasi 2017

Pada kenyataannya di lapangan, sebagian besar orang kita, tidak masalahkan klo di foto kok. Apalagi kalau pakai ijin atau sekedar tersenyumlah setelah memotretnya.

Setu-Bekasi 2017

Semangaat

BudiPurnomo

Kamera ku (street photo)

Sejak memutuskan utk mendalami street photography. Sy mulai kurang nyaman memakai dslr. Di samping agak besar dan spertinya kurang ringkas utk blusukan.

Setelah googling dan baca banyak artikel tentang gears dari para master street photo. Akhirnya saya putuskan mencari kamera utk street photo dengan kriteria:

– simpel penggunaannya

– kecil dan ringan

– kualitas kamera yang mampu merekam low light dengan bagus

– Lensa fixed yang bagus (28mm atau 35mm)

– harganya jangan mahal2.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada 2 kamera mirrorless: fujifilm x100t  (second) dan samsung s7 edge.

Lho kok ada hp? Ya gak apa apa. Toh kamera di hp, pada dasarnya adalah kamera mirrorless. Dan kualitas kamera s7edge cukup bagus dan nyaman utk low light.

Keduanya mudah sy bawa kemana mana setiap saat. Kualitasnya mumpuni. Best value beneeer.

Khusus utk fujifilm x100t ini bener2 kamera best value utk street photo. Dinamic rangenya manteb. Saturasi warna dan kedalaman hasil foto dapet banget. Harga secondnya masih masuk budget lah.

Dan sy mulai deh menganut aliran one camera one lens. Karena lensa di fujifilm x100t fixed 35mm f/2.
Perlu penyesuaian..karena biasanya saya pakai lensa dengan range 11-16mm, 50mm dan 80-200mm. Tetapi, saya bener2 nikmati mahzab satu kamera satu lensa ini. Mau gak mau, harus bergerak menjauh atau mendekat. Bahkan sampai2 memotret wajah subjek (orang asing) hanya berjarak 30 cm an saja…. ini pengalaman baru yang menantang dan seruuu.

Bekasi 2017

Mau tantangan baru berfotografi, coba bermaen di street photo.

Semangaat

BudiPurnomo

My Street photography

Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan genre yang satu ini. Sy pikir agak nyeleneh dan biasa ajah. Dan di Indonesiapun, genre ini spertinya tidak terlalu berkembang pesat sperti foto makro, fashion, human interest, landscape atau arsitektur. Street foto, Saya melihatnya lebih seperti travel photography.

Sampai suatu saat, saya menemukan blog erickimphotography.com. Dia menjelaskan streetphoto dari awal sampe hal hal yg sangat filosofis dan mendalam. Sy baca habis tulisan erickim dan ulasannya mengenai para master streetphoto. 

Pedagang di dalam pasar Pakem- Jogja 2017

Wooow! Ternyata persepsi dan pengetahuan saya selama ini tentang  streetphoto salah banget. Dan hebatnya. Saya langsung jatuh cinta pada street photo. Sy jadi setuju dengam erickim… foto street itu unik, tidak bosenin, dinamis dan tidak dapat diulang lagi…. banyak cerita dibalik karya fotonya. Apalagi ada bab decisive moment! 

Pasar Pakem-Jogja 2017 (di bawah tenda) 

Dinamic composition! ini bab yang sangat mengguncang paradigma saya dalam berfotografi. Banyak aturan baku komposisi jaman old yg malah harus langgar utk buat hasil foto yang dinamis. Tapi itu yang membuat gelora fotografi saya membara lagi. 

Yess…. saya antusias sekali. Sy jadi semangat utk berfotoria lagi… hanya sekarang urusannya jalan kaki di area area yang saya ingin foto. Ketemu moto orang asing, perhatikan bayangan, tembok, lampu lampu, kaca, billboard dan toko dll.


Lapangan dukuh zamrud-Bekasi 2017

Beberapa  bulan terakhir ini, saya  fokus hanya street photo saja. Semua teori komposisi ala street photo dan hasil2 foto para master saya pelajari dan langsung jadikan self project utk dipraktekkan…

Ternyata…… sangat menantang dan sangat tidak mudah. Semua berhubungan dengan orang asing, keberanian, keunikan, dan banyak lagi deh… dan in syaa Allah lebih sehat karena banyak jalan kaki menyusuri jalan jalan.

Semangaat

BudiPurnomo

blek en wait lagi

Mau jungkir balik moto,,,ujung ujungnya tetap ajah, ada rasa kangen dengan kepolosan foto hitam putih. Tetap menarik melatih mata, untuk hanya bermain dengan gradasi hitam pekat, abu abu sampai dengan putih, dan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi, untuk saya yang moto hitam putihnya..kadang-kadang saja.

Warna merah, jadinya apa ya di hitam putih? warna hijau, biru, coklat dll…semua ditransformasikan hanya dengan jutaan warna bernuansa hitam, abu abu dan putih.

Kesan jadul dan emosi kenangan pada foto hitam putih masih belum bisa dikalahkan oleh foto  yang warna warni. Foto-foto ini saya ambil sore hari di lapangan komplek tempat saya tinggal.

Beberapa tahun lagi, anak-anak yang ada dalam foto ini, mungkin akan melihat foto foto ini dengan kenangan masa kecilnya.

Yuuk, belajar fotografi online dengan modul yang komplet, jelas dan mudah klik  www.fotoindah.com

Saya suka dengan teknik “menghitamputihkan” foto berwarna dengan cara menghilangkan saturasi foto berwarna. Setelah itu, tinggal atur kecerahan dan kontras.

Bagaimana dengan kamuh?

 

indahnya fotografi

%d blogger menyukai ini: