Posted by: Budi on: 8 Februari 2010
bertindak cepat dan tepat sebenarnya bagus dan sangat dibutuhkan dihampir setiap kegiatan. Hanya sayangnya ,cepat dan tepat, kadang tidak kompak. Bisa cepat tetapi tidak tepat…atau kadang tepat tapi tidak cepat. Sehingga, biasanya kita ambil yang moderat,,,tidak terlalu cepat tapi lumayan tepat, hehe.
Kegiatan memotret juga seperti itu. Tidak selamanya subjek foto kita berupa momen yang cepat (dalam hitungan detik!). Tetapi hampir kebanyakan subjek foto kita (hobies fotografi) adalah momen yang sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat tetapi juga kalau kelamaan akan hilang momennya.
Nah, kali ini. Sy mau membicarakan kebiasaan kebanyakan dari kita untuk buru-buru ketika memotret. Terutama, apabila subjek foto kita adalah hal atau sesuatu yang baru. Misalnya, kita berkunjung ke objek wisata yang baru pertama kali kita datangi, kagum akan keindahannya, langsung deh, jepret-jepret-jepret. Atau biasanya langsung suruh keluarga kita mejeng dengan latar belakang pemandangan yang “menurut mata kita saat itu” sangat indah. Hasilnya?….mudah-2an bagus, itu harapan kita…kata yang tepat mungkin,,,EMOSIONAL!, jadi kita pengen buru-buru menuntaskannya.
Sekedar, sharing saja. sebenarnya pola seperti di atas tidak masalah. Hanya saja, alangkah lebih baik, kalau sebelum sesi motret (apapun itu), kita mengadakan observasi singkat mengenai kondisi lapangan dahulu, baru setelah itu, buat perencanaan singkat (dalam hati ajah), mau seperti apa hasil foto kita.
Sy sih biasanya melakukan observasi singkat dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Nah, berikut contoh kasus…ketika sy berkunjung ke Pangandaran. Sy liat kebanyakan orang, langsung menghabiskan energi motret begitu mereka sampai di pantai. Padahal sy liat, masih agak siang, krodit, panas sehingga kontras tinggi sekali. Jadi sy putuskan, jalan-jalan di tempat yang adem, minum es kelapa dulu,,,lalu menyusur bibir pantai. Hingga sampailah sy di area yang menurut sy “pas”. tidak terlalu rame, sederhana, dan waktu pemotretannya lebih Ok (karena sudah agak sore!)….ini dia, hasilnya. Lumayankan!
Sore itu, suasana pantai sebenarnya rame baanget,,,tetapi hasil jalan sedikit ajah,,,eh, sy menemukan spot yang lebih sederhana, lapang dan sesuai keinginan saya….matahari masih agak tinggi, tetapi cahaya sampingnya sy dapet. Foto di atas adalah tampak kiri dan kanan ketika sy menghadap ke laut selatan.
Tinggal menunggu sebentar, sy sudah dapet momen sunset. Cari subjek menarik…tampil deh siluet seperti yang sy inginkan….
Mudah-mudahan bermanfaat.
Ingin belajar fotografi murah dan efektif? kunjungi portal fotografi saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 21 Januari 2010
cube yang colorful
Kebanyakan diantara kita, kalo mau motret makro, objek yang dipilih adalah benda hidup yang berukuran mini, misalnya capung, ulat, semut, serangga dll. Hasilnya memang menakjubkan…karena mata kita terbiasa melihat binatang-binatang itu dalam ukuran mini. Ketika dipotret dengan teknik makro,,,,surprise!!! detil-detilnya terlihat jelas dan menakjubkan! Tetapi, untuk menghasilkan foto makro dengan objek binatang hidup itu, tidak lah mudah….banyak perjuangan di sana.
sandal kayu yang sudah tidak terpakai……..
Nah, sejatinya, foto makro juga bisa untuk motret apa ajah….dengan tujuan menonjolkan detil atau mengekpos keindahan benda tersebut. Pertanyaannya? benda apa yang layak dan fotogenic untuk dijadikan objek foto makro?…kalo di manual-manual book camera, biasanya yang sering dijadikan contoh adalah koin….tetapi sebenarnya, jenis benda yang bisa kita jadikan objek banyak sekali…tidak ada patokan atau kriteria untuk itu. Semua tergantung, kita sebagai tukang poto nya….
dapet baut bekas yang berkarat…
Cara paling mudah adalah menentukan apa “hal” yang ingin kita tonjolkan. pilih benda yang colorful kalau kita ingin menonjolkan warna…pilih benda yang kasar, kalo kita ingin mengedepankan tekstur,,,dan sebagainya….
Tiang lampu neon yang korosif
Secara teknik, motret makro dengan objek benda mati, lebih mudah. karena kita bisa berinteraksi sebebas-bebasnya. (tanpa takut dia kabur atau terbang). Tetapi tetap, aturan baku dalam fotografi makro sebaiknya kita penuhi, misalnya:
1. gunakan aperture yang terkecil
2. gunakan tripod (agar lebih presisi dan tidak blur)
3. gunakan lensa makro / adapter makro
4. gunaka flash, kalau kita ingin berkreasi dengan cahaya…
ornamen sandal gabus yang usang…
sy pikir itu saja udah cukup tuh…selanjutnya, berkreasilah terserah anda….mudah bukan!
Ingin belajar fotografi murah dan efektif? kunjungi portal fotografi saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 18 Januari 2010
Setelah tertunda-tunda, akhirnya saya berhasil juga,,,mengunjungi curug panjang. ternyata tidak terlalu jauh yah, hanya 16km dari pintu tol Ciawi. Setelah memasuki daerah cipayung, mata langsung mencari-cari plang penunjuk,,,dan ternyata mudah sekali,,,begitu ada papan “learning center unilever”,,,langsung belok kiri. Dari jalan utama sampai dengan diklat serse, jalanan masih lumayan lebar (kurang lebih 2 mobil),,,,nah begitu lepas dari diklat serse, jalan mulai menyempit dengan ekstrim,,,lebar jalan hanya pas 1 mobil lebih dikit! Tetapi suasana sisi-sisi jalan mulai menarik dan menyejukkan mata. Mulai dari melewati perkampungan, kawasan hutan, punggung bukit dengan pemandangan daerah puncak…Kondisi jalan masih terbilang bagus (mobil sedan dengan ground clearace rendahpun masih bisa lewat dengan nyataiii),,,walaupun jalanannya kecil, berliku dan menanjak! Kata kuncinya cuman satu….nikmati suasana yang ada. Oh ya, kita dipandu penunjuk arah “menuju curug panjang” di sepanjang perjalanan yang melewati jalan kecil dan berliku itu.
jalan sempit, berkelok, tetapi pemandangannya, top abizz
Saya tidak melihat adanya gerbang pintu masuk khusus….pokoknya tiba-tiba, jalan aspal habis, dan kita sudah sampai di loket pintu masuk “curug panjang”. Tiket masuknya cukup terjangkau (Rp.5500, sudah termasuk asuransi).
curug panjang,,,memang air terjun yang landai dan panjang
Menuju lokasi curug panjang, kita harus melewati jalan batu yang cukup lebar. Kita akan sambut dengan banyaknya spanduk-spanduk peringatan, tentang pentingnya keselamatan, kebersihan, tempat membuang sampah dll….tetapi ternyata itu efektif, karena di area curug panjang itu,,,memang bersih dan bebas dari sampah!!! Sebelum sampai ke curug panjang, kita akan melewati curug sawer, yang kecil mungil.
lokasi camping yang bersih dan terawat rapih…
Jalan berbatu akan pecah dua….ke bawah menuju curug panjang dan lurus terus menuju camping ground. Kalo enggak pengen camping yang, mendingan langsung saja turun ke bawah menuju curug panjang.,,,Sesampainya di lokasi, kita akan menyadari, mengapa ia dinamakan curug panjang. Karena ternyata air terjun itu, turun bertingkat-tingkat dan cukup panjang…..mulai dari air terjun utama yang deras, sampai dengan pecahan-pecahan kecil yang memanjang, melintasi bongkahan batu kali raksasa…..
Di curug panjang, ini ada spot-spot kubangan air yang mengundang kita untuk berenang….sy pun engga tahan untuk tidak segera terjun….bluuuur,,,,seger, dingin dan aduuuuh, kaki saya terantuk batu-batu kali di dasar sungai….tapi, engga apa-apa,,,kapan lagi ” berenang di natural swimming pool”, dengan air jernih, bersih dan tanpa kaporit!!!
the real “natural swimming pool”
Sayang, saya tidak sempat, ikut river trackingnya!….jalan menyusur sungai selama 2 jam, dari curug panjang, menuju curug ciblau,,,yang konon airnya lebih jernih lagi, karena ia berada di wilayah konservasi…dan ada “natural swimming pool yang lebih natural …..OK Lah Kalo Begitu,,,,Insya Allah, next time I will be there….
Ingin belajar fotografi online? kunjungi portal fotografi saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 15 Januari 2010
Saat musim hujan tiba, biasanya dibarengi dengan banyaknya telur kupu-2 yang mulai menetas. Secara alami kupu-2 atau sejenisnya, menaruh telur-telurnya di balik daun-daun yang masih segar, sehingga terlindung (paling tidak sampai telur tersebut menetas).
Ketika telur telah menetas dan berubah menjadi ulat….kejadian ini yang luar biasa. Kecepatan pertumbuhan ulat ini cepat sekali,,,nafsu makannya besar. Daun dengan cepat dilalapnya….dalam hitungan satu malam saja, satu lembar daun sebesar telapak tangan manusia dewasa ludessss.
Nah, momen musim ulat ini, bisa kita manfaatkan, wahai para hobies fotografi. Siapkan kamera dan tripod anda. Lakukan hanting di taman anda atau taman tetangga juga boleh (hehehe).
Dalam memotret ulat-ulat ini, sebaiknya kita lakukan dengan teknik motret makro.
Siapkan lensa makro atau adapter makro…pilih mode makro atau pilih aperture terkecil yang tersedia di kamera anda….cari sudut pandang yang bagus,,,pasang kamera ke tripod…dan jepret-jepret-jepret….
Kuncinya cuman,,,sabar! Selamat hunting foto ulat teman-teman….
Ingin belajar fotografi online? kunjungi portal fotografi saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 3 Januari 2010
Menurut saya, Telaga Sarangan adalah salah satu objek wisata yang cukup menantang! Terutama untuk anda yang suka berpergian atau piknik menggunakan mobil. Bagaimana tidak, untuk menuju lokasi, anda harus memastikan kondisi mobil anda sehat walafi’at. Selepas dari kota Solo (surakarta),,,anda akan terus menanjak ke atas, menuju kota Karang Anyar,,,dan terus menanjak dan semakin menanjak dengan kondisi jalan yang tidak besar serta berliku menuju Telaga Sarangan.
Objek wisata Sarangan sebenarnya hanya berupa telaga yang tidak terlalu besar. Hanya karena letaknya yang cukup tinggi, membuat telaga ini, menjadi objek wisata yang menarik. Di ketinggian sekitar 1200 mdpl….udara di sekitar Telaga Sarangan, menjadi sejuk dan nyaman. Tiket masuknya juga cukup murah, hanya Rp.4000 per orang…
Akomodasi cukup banyak di sana, mulai dari motel-2 kecil, sampai dengan hotel yang cukup lumayan dengan tarif yang tidak terlalu mahal….kisaran 100rb s/d 400 rb….
wisata air yang disediakan di Telaga Sarangan,,,masih cukup terbatas, tetapi lumayan lah untuk stress realese…anda bisa mengelilingi telaga dengan speed boat (sekali putar Rp.40 ribu) atau bebek air (Rp.40rb/jam)….atau yang paling murah anda dapat berjalan kaki mengelilingi telaga. Kuda juga ada kalau anda tidak ingin cape,,,hanya Rp.30rb saja.
Kuliner khas di telaga sarangan adalah sate kelinci atau sate ayam,,,dengan isi tusukan yang super tipis dan kecil,,,,jadi engga terasa nendang di perut, kalau cuman memakan 1 porsi yang terdiri dari 15 tusuk itu (1 porsi Rp.9ooo saja!)…
So,,,kalo udah sampe Solo, sempatkan mampir ke Sarangan yang sudah berada di Jawa Timur itu!
Ingin belajar fotografi online? kunjungi portal fotografi saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 4 Desember 2009
Salah satu elemen foto yang menarik untuk ditampilkan dengan pesona efek grafis adalah elemen garis.Klo kita jeli, sebenernya banyak sekali subjek foto di luar sana yang tampil kaku, dengan garis-garis lurus yang tegas. Biasanya garis-garis tegas itu banyak dijumpai terkait dengan bangunan-bangunan buatan manusia. Gedung, tangga, jalan raya, menara merupakan beberapa subjek yang sarat dengan garis.
Menampilkan elemen garis secara tegas dalam hasil foto kita, biasanya jarang muncul begitu saja, walaupun subjek kita berupa bangunan yang banyak bidang-bidang lurusnya. Kembali lagi, kita harus punya visi dulu,,,mau motret apa? apa yang mau kita suguhkan pada pemirsa foto kita? Begitu kita sudah menentukan “saya mau menonjolkan elemen garis!”…biasanya, fokus kita langsung ke arah sana….seolah-olah subjek foto kita, memanggil-manggil kita dan memberi tahu, elemen garis mana yang sebaiknya di potret oleh kita….kita mulai berkeliling, mengamati lebih teliti, mencari sudut pandang dan kegiatan motret menjadi fokus dan menggairahkan!!!
Tidak ada patokan baku, harus seperti apa elemen garis kita munculkan atau tonjolkan dalam hasil foto kita…yang penting, selalu jelaskan pada pemirsa,,,apa yang ingin anda tonjolkan dari foto “elemen garis” anda…simpel kan!
Ingin belajar fotografi online? kunjungi portal fotografi saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 14 November 2009
Memotret memang terlihat gampang, apalagi dengan teknologi kamera digital saat ini…Kita sepertinya dimanjakan sekali dengan fasilitas dan teknologi yang disediakan oleh sang kamera. Mulai dari memfokuskan objek foto, sampai dengan mode-mode pencahayaan yang paling cocok dengan siatuasi objek yang akan difoto. Pokoknya “seolah olah” semua orang dapat disulap menjadi pembuat “foto indah” secara instan…
Kenyataannya,,,bisa iya, bisa tidak. Memang logikanya, kamera yang canggih memang memberikan bantuan dan mempermudah proses pengambilan gambar dan juga meningkatkan kualitas hasil foto yang dibuat. Tetapi, tetap diperlukan asumsi-asumsi tertentu agar, kecanggihan kamera bisa kita manfaatkan secara maksimal.
Apa sih asumsi-asumsi umum tersebut?
Memang masih banyak lagi asumsi lain,,,tetapi menurut saya, tiga asumsi di atas saja sudah cukup!…anda pastikan tiga hal di atas,,,maka, kamera canggih anda bisa lebih termanfaatkan lebih optimum untuk menghasil foto yang indah hasil karya anda sendiri….

dengan banyaknya latihan, pemahaman fitur kamera dan sedikit ilmu mengenai perspektif…motret model gini, gampang banget…..

Pantai merupakan objek foto yang menarik,,,,tapi penggunaan kamera canggih belum tentu menghasilkan hasil foto yang canggih (baca: indah)….sekali lagi, memahami 3 asumsi di atas bisa meningkatkan hasil foto kita.
Ingin belajar fotografi online? kunjungi portal fotografi saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 4 November 2009

Fotografi digital saat ini membuat kegiatan memotret terasa mudah dan modern….semua fitur kamera digital menawarkan keragaman dan kecerahan warna….tetapi ternyata masih banyak orang yang suka dengan hitam putih (black and white). hasil foto dalam gradasi warna hitam, abu-abu sampai putih ini, memang mempunyai kekuatan emosi tersendiri…bahkan bisa mengalahkan foto berwarna!

Menampilkan karya foto dalam hitam putih, penuh tantangan. Bayangkan saja, dunia yang penuh warna ini, harus tampil monokrom,,,kalau perspektif 3 dimensinya tidak kuat,,,dijamin foto akan garing se garing-garing nya (foto datar dan sangat tidak menarik!)…Sehingga, kalo mau mentransfer foto berwarna menjadi foto hitam putih yang berkarakter,,,mau tidak mau kita harus serius dan merencanakan “sesi pemotretannya”, agar gradasi putih,abu-abu hitam dan kontrasnya tampil dengan penuh emosi….

Di sisi lain…foto hitam putih memberi kesan “history”…kesan jadul….dan penuh kenangan…. Jadi tidak ada salahnya, sekali-kali punya perencanaan motret tapi khusus untuk di hitam putih kan!
Belajar fotografi online, silahkan kunjungi website belajar foto online saya di http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 27 Oktober 2009

Objek wisata Kawah putih sebenarnya adalah kawah dari gunung Patuha yang terisi oleh air hujan. Seperti kawah gunung berapi pada umumnya, daerah kawah putih full bau belerang, tetapi untungnya tidak terlalu menyengat. Sesuai dengan namanya, Kawah putih memberi sensasi khusus bagi mata kita…karena hamparan air belerang ini, menyebabkan warna air bernuansa dingin, didominasi warna putih dan biru muda telur asin. Warna sejuk dan menjadi benar-benar sejuk karena suhu udara memang sejuk (bahkan cenderung dingin). Jadi klop banget,,,mata dipuaskan dengan warna pemandangan yang dingin plus udara yang memang benar-benar dingin (suhu skitra 17-21 derajat celcius).

Bagi anda yang hobi fotografi,,,,di kawah putih akan ada banyak sekali, spot-spot foto yang menarik. warna sejuk plus kabut yang tebal, serta hamparan batu hitam menjadi hasil foto yang unik dan menarik. Pokoknya anda motret orang atau pemandangan, secara teknis akan menjadi hasil foto yang “rata-rata” memuaskan anda.
Kawah putih bisa ditempuh melalui Tol Purbalenyi. Keluar pintu toll KOPO, setelah itu ikuti saja jalan menuju Soreang-Ciwidey-kawah putih. dari Tol Kopo, kawah putih berjarak kurang lebih 36km. Saya sarankan anda sudah keluar di tol kopo kurang dari jam 7 pagi (untuk menghindari kemacetan di pasar Kopo) . Dan lagi, enak sekali anda sudah di kawah putih ketika hari masih pagi,,,,duingin dan bagus sekali suasananya untuk memotret. Tiket masuk (Oktober 2009) sebesar Rp.12 ribu/orang…mobil bisa di bawa naik sampai puncak. seandainya anda tidak membawa mobil, pihak pengelola menyediakan angkutan menuju puncak kawah putih….

Kalau anda ingin, terus menikmati sensasi dingin kawah putih,,,tidak ada salahnya anda menginap di Ranca Upas Camping Ground yang berjarak hanya 1 km dari kawah putih.

Silahkan berkunjung ke situs belajar fotografi online punya saya http://fotoindah.com/?id=tes
Posted by: Budi on: 22 Oktober 2009
Jaman saya kecil dulu, Capung mudah sekali dijumpai. Binatang kecil dan lincah terbang ini, memang selalu hidup dekat dengan sumber air. Sekarang sumber air yang bersih sudah susah,,,kondisi air di got dan selokan saat ini sudah ngga cocok untuk habitat hidup mereka. Jadi deh,,,ketemu capung sudah, susah susah gampang.

Capung sebenarnya banyak sekali ragamnya…tetapi, yang paling sering dijumpai adalah jenis capung yang berwarna kuning tua, merah cabe atau hijau tentara. Capung jarum dahulu masih mudah, sekarang juga sudah susah.

Tidak ada salahnya, kalau sekali-sekali, kita hunting foto untuk motret capung….kalau di tempat tinggal kita masih banyak capung, itu berita bagus…tetapi seandainya, sudah agak susah, yah, tidak ada salahnya kita pergi ke tempat sumber air yang masih relatif bersih airnya (danau atau sungai).
Karena, ukuran capung yang relatif kecil,,,maka memotretnya juga memerlukan peralatan fotografi yang agak khusus. Misalnya kita perlu lensa tele atau lensa makro. Capung biasanya kalau sudah hinggap di suatu tempat,,,dia akan betah diam berlama-lama di sana,,,Nah, itulah kesempatan kita untuk memotretnya.

Seandainya, kita memotretnya tidak menggunakan tripod, pastikan kita menggunakan speed yang cepat, agar tidak goyang karena getaran tangan kita. pilihlah ruang tajam yang luas, agar kita dapat memotret dengan ketajaman yang memadai di sekujur tubuh capung tersebut….
saya sering menggunakan flash, untuk memudahkan pemotretan…saya dapat memotret dengan ruang tajam yang luas tetapi speednya juga memadai….
pokoknya motret capung asyik dan seru,,,coba deh!
Silahkan berkunjung ke situs belajar fotografi online punya saya di http://fotoindah.com/?id=tes